PDIA: Pengertian, Tujuan, dan Tantangan Pendidikan di Indonesia

Banyak penemuan-penemuan bersejarah yang berasal dari usaha menyelesaikan masalah yang dihadapi manusia. Penemuan telepon adalah salah satu contohnya. Berangkat dari “kesulitan” berkomunikasi jarak jauh secara dua arah, pada tahun 1876 Bell menemukan telepon. 

Pengertian PDIA dan Tantangan Pendidikan di Indonesia
Sumber gambar: bsc.cid.harvard.edu

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan dan “kesulitan” baru terkait komunikasi jarak jauh terus bertambah. Mobilitas manusia yang semakin bertambah tinggi membuat manusia membutuhkan telepon yang bisa dibawa ke mana-mana dengan fitur yang lebih canggih. Maka, munculah proses adaptasi terjadi secara terus menerus hingga telepon genggam memiliki berbagai fitur seperti yang kita kenal sekarang. 

Proses adaptasi berulang dan terus menerus inilah yang mengilhami para akademisi dari Harvard (Andrews et al. 2017) memperkenalkan sebuah pendekatan yaitu problem-driven iterative adaptation (PDIA). Definisi dari PDIA adalah:
Sebuah proses untuk menominasikan masalah lokal dan mencari solusinya. Solusi diperoleh dengan memastikan otorisasi dari setiap tindakan kita, mencari simpangan positif (lihat bagian 2.5.6), dan berinovasi. PDIA mendorong iterasi berdasarkan umpan balik dan menyebarkan solusi yang sudah diperoleh melalui jaringan kita (Andrews et al. 2017: 28).
Faktor lain yang mendorong munculnya PDIA adalah bahwa para inisiator konsep ini melihat bahwa berbagai praktek pembangunan belum berjalan dengan baik. Salah satu fenomena adalah bahwa banyak peserta didik yang berada di sekolah, namun belum mendapatkan kualitas pendidikan yang memadai. Hal ini dijelaskan dalam buku Schooling Ain’t Learning (Pritchett, 2013).

PDIA hadir menawarkan sebuah pendekatan untuk menemukan penyelesaian masalah melalui proses iterasi dan adaptasi. Kedua hal ini dianggap penting, karena banyak program pembangunan diimplementasikan hanya dengan mengikuti sebuah cetak biru. Konteks lokal seperti budaya, kebiasaan, kapasitas, atau tantangan tertentu dari suatu daerah biasanya kurang mendapatkan perhatian.

Dimulai dari pemetaan masalah yang sedang dihadapi, kemudian mencoba menyusun konsep pemecahan masalah, menguji-cobakannya serta melihat seberapa efektif konsep pemecahan masalah itu mampu menjadi solusi. 

Jika hasil monitoring menunjukkan bahwa program kurang efektif maka kita perbaiki desainnya, uji coba kan lagi, monitoring lagi hingga kita berhasil menemukan pemecahan masalah yang paling menjawab permasalahan yang sedang dihadapi.

Jika kita kaitkan dengan kondisi pandemi COVID-19 yang tengah melanda dunia, termasuk di Indonesia, kita melihat begitu banyak terobosan diperkenalkan dalam rangka kegiatan pembelajaran jarak jauh. 

Penggunaan platform digital semakin meningkat karena kita menilai inilah yang tengah dibutuhkan oleh warga belajar kita. Namun apakah ini yang kita butuhkan? Atau kah kita sekedar mengikuti tren tanpa mengidentifikasi, ini kah yang benar-benar diperlukan oleh peserta didik kita.

Di bidang pendidikan di Indonesia, PDIA pertama kali diperkenalkan oleh INOVASI, sebuah program kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Australia yang dimulai pada tahun 2016. Program kerjasama lain yang telah menerapkan PDIA adalah Research on Improving Systems to Education Program (RISE) oleh SMERU Research institute. 

Kedua program ini berusaha mengidentifikasi solusi pendidikan apa yang dapat berhasil pada konteks lokal tertentu. Tahun ini, Kemendikbud bersama INOVASI dan RISE menyusun modul PDIA bagi Widyaiswara Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) agar dapat memfasilitasi, memonitor dan mengevaluasi kinerja Organisasi Penggerak kategori Kijang. 

Rangkaian modul ini beserta ‘PDIA toolkit’ (Center for International Development, 2018) dari Universitas Harvard merupakan inspirasi utama dari bahan ajar PDIA dan kemampuan refleksi ini. 

Mengapa PDIA menjadi penting bagi pendidikan Indonesia? Dengan keberagaman kondisi geografis, kebudayaan, bahasa dan potensi sumber daya manusia yang begitu beragam, setiap daerah memiliki tantangannya sendiri. 

Provinsi di pulau Jawa menghadapi tantangan yang jauh berbeda dengan daerah di Papua. Saat meningkatkan kualitas pendidikan sudah menjadi prioritas bagi banyak daerah di Jawa, akses masih menjadi prioritas penting di Papua dan Papua Barat yang memiliki Angka Partisipasi Murni (APM) yang rendah untuk jenjang SD, SMP dan SMA (Kemendikbud, 2018: 48).

Daerah juga dapat menghadapi tantangan yang bersifat khusus. Misalnya, di Sumba dan Bima terdapat peserta didik yang memerlukan bantuan dalam bertransisi dari bahasa daerah ke Bahasa Indonesia. 

Di daerah seperti Dompu, anak-anak dapat absen dari sekolah selama beberapa minggu saat masa panen karena pergi bersama orang tua ke ladang. Aktor pendidikan sulit mengatasi tantangan ini hanya dengan mengandalkan sebuah grand design nasional. 

Oleh karena itu, melalui modul ini, Kemendikbud mendorong pemerintah daerah, pendidik dan tenaga kependidikan agar dapat mengidentifikasi masalah yang sesuai dengan konteksnya dan merancang solusi yang sesuai.

Apakah PDIA mungkin diterapkan di Indonesia? Jawaban singkatnya, sangat mungkin. Terlebih karena Indonesia sudah memasuki era desentralisasi pendidikan. 

Saat ini, pemerintah daerah memiliki otoritas yang besar untuk mengelola sektor pendidikan. Kabupaten/kota jelas memegang peranan penting khususnya untuk pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan kesetaraan. 

Pemerintah juga memberi otoritas yang besar bagi sekolah untuk mengatur kebutuhan operasionalnya, misalnya melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Struktur sektor pendidikan yang memungkinkan pengambilan keputusan terjadi di tingkat daerah maupun sekolah, sangat mendukung sebuah pendekatan yang berlandaskan kebutuhan dan tantangan lokal.

Oleh karena itu, PDIA diharapkan dapat membantu pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pendidik dan tenaga kependidikan untuk lebih memahami masalah yang dihadapi dan merancang solusi yang sesuai dengan konteks, potensi dan kemampuan aktor setempat. Salah satu bagian terpenting dalam PDIA adalah melakukan refleksi.

Referensi:

Andrews M, L Pritchett dan M Woolcock (2017). Building state capability: evidence, analysis, action. Oxford: Oxford University Press.

Kemendikbud (2018). Ikhtisar data pendidikan & kebudayaan 2017/18, Kemendikbud: Jakarta, diakses pada 13 Oktober 2020, 

Samji, Andrews, Pritchett, & Woolcock (2017). PDIA Toolkit: A DIY Approach to Solving Complex Problems. Harvard University: Cambridge.

Sumber tulisan:

BAHAN AJAR PENGUATAN KEMAMPUAN REFLEKSIDAN: Sebuah Pengantar Problem-driven Iterative Adaption (PDIA)

Diterbitkan Oleh: Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan PAUD dan Dikmas Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Post a Comment for "PDIA: Pengertian, Tujuan, dan Tantangan Pendidikan di Indonesia"