Overprotektif (Bukan) Tanda Cinta

Setiap orang tua pasti ingin kehidupan anaknya berjalan mulus tanpa hambatan. Sehingga orang tua selalu berada di garda terdepan saat sesuatu terjadi pada anaknya. Namun jika perlindungan pada anaknya sudah over itu bukan sebagai tanda besarnya cinta, malah akan mendorong anak pada jurang kehancuran.

Overprotektif pada Anak (Bukan) Tanda Cinta
Sumber gambar: smartparenting.com.ph

Orang tua yang over protektif bersikap sebagai dewa penolong yang selalu menolong anak dari kesulitan, seperti saat anak bertanya soal matematika, Orang tua langsung memberikan jawaban tanpa menjelaskan dan memberi kesempatan pada anak. Terlalu membantu anak akan berakibat anak tidak terbiasa memecahkan permasalahannya sendiri.

Terlalu mengontrol dan memantau setiap gerak gerik anak akan membuat anak merasa risih, tidak bebas dan merasa tidak mendapat kepercayaan dari orang tuanya sendiri.

Terlalu mencegah anak melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak membahayakan anak akan berakibat anak tidak belajar mandiri. Seperti mencuci piring, mengelap meja dan lain-lain.

Orang tua yang terlalu melindungi anak secara berlebihan karena terlalu kawatir anaknya sengsara, sakit dan sedih akan membuat anak merasa tak bebas dalam bereksplorasi dan menyalurkan emosinya. Akibatnya anak akan lemah hatinya, penakut, tidak tahan terhadap hujatan, bantahan, kritikan dan membuat anak selalu bergantung pada orang tua.

Setiap orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya, namun bukan berarti harus overprotective terhadap anak. Ajarkan kemandirian pada anak. Mengasuh dan mendidik anak seperti mengajarkan anak dalam memanah. 

Anak yang diajarkan memanah, akan bisa bertahan hidup seumur hidup sedangkan anak yang diberi burung hanya akan bertahan hidup sehari. Mengajarkan kemandirian pada anak bisa menjadi bekal anak untuk menghadapi masa depannya kelak.

Ditulis oleh: Hani Elhasbi

Post a Comment for "Overprotektif (Bukan) Tanda Cinta"